After every storm, there is a rainbow. Kutipan yang dipopulerkan oleh Shannon Alden nampaknya tepat menggambarkan kisah pasangan Anistia Malinda Hidayat dan Aly Ilyas.
Pasangan suami istri yang saat ini menjalani studi doktoral di Inggris ini justru memulai kisah mereka pasca menamatkan studi diplomanya di STMKG, di tengah suasana mencekam pandemi Covid-19 tahun 2020.
Sebelum akhirnya memutuskan menikah, mereka sepakat mengejar mimpinya untuk S2 terlebih dahulu. Mereka meyakini hal tersebut dilakukan sebagai ikhtiar mengurangi ego-ego pribadi sebelum berkeluarga, terlebih bagi Anistia yang memimpikan sekolah di luar negeri sejak kecil.
Bak gayung bersambut, Anistia berhasil mendapatkan beasiswa kuliah di Universite Toulouse III – Paul Sabatier pada tahun 2021. Sementara itu, Aly melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia (UI).
Blessing in disguise: hikmah dibalik menjadi marbot masjid di sekolah
Gelombang PHK tahun 1998 rupanya menjadi titik nadir keluarga Aly Ilyas, bapaknya yang sebelumnya bekerja sebagai teknisi di sebuah perusahaan percetakan turut dirumahkan. Hal tersebut membuat kehidupan keluarganya cukup prihatin, makan dengan sambal dan kerupuk tanpa lauk menjadi hal lazim saat Aly kecil.
Ibunya yang hanya lulusan SD akhirnya berjualan lentog tanjung, makanan khas daerah Kudus, untuk menyambung napas keluarga. Alih-alih menyuruh anak-anaknya mencari uang untuk keluarga, orang tua Aly justru melarang bekerja dan meminta mereka untuk fokus sekolah.
Kondisi ekonomi yang serba kekurangan tak menyurutkan tekat dan mimpi Aly untuk pergi merantau ke Semarang guna melanjutkan pendidikannya di jenjang SMK. Ia mendapatkan beasiswa penuh di SMK 7 Semarang. Guna menghemat pengeluaran, ia diizinkan tinggal di masjid untuk membantu memakmurkannya dengan menjadi marbot.
Mengingat lokasi masjid yang terletak di dalam lingkungan sekolah, Aly memiliki banyak waktu di sekolah. Dari yang mulanya iseng melihat kakak tingkatnya persiapan lomba, hingga akhirnya dilibatkan untuk membantu dan belajar lebih dalam seusai pulang sekolah.
Tak ayal, hal tersebut mengantarnya menjadi juara di pelbagai perlombaan mekatronika tingkat provinsi hingga internasional. Pada tahun kedua di bangku SMK, Aly berhasil terpilih menjadi perwakilan provinsi dan meraih medali emas – juara 1 kompetisi mekatronika tingkat nasional pada tahun 2011.
Pada tahun 2013, ia berhasil menjadi perwakilan Indonesia untuk mengikuti World Skills Competition bidang mekatronika di Leipzig, Jerman serta menjadi lulusan terbaik di SMK tersebut.
Bibliosmia dan cita-cita kuliah ke luar negeri
Bagi Anistia, paparan untuk belajar ke luar negeri datang pertama kali dari kakeknya, Prof. Dr. Hery Suwito, Drs. M.Si. Beliau merupakan dosen kimia Universitas Airlangga dan juga penerima beasiswa DAAD di Jerman tahun 1995 – 1998. Prof Hery adalah adik dari nenek kandung Anistia.
Setiap berkunjung, Anistia kecil selalu terpukau dengan tumpukan buku-buku kakeknya, kerapian dan aroma buku-buku berbahasa Inggris atau Jerman itu meninggalkan kesan tersendiri baginya. Saat itulah bayangan belajar atau tinggal di luar negeri mulai muncul dan secara tidak sadar termanifestasi di alam bawah sadarnya.
Pada saat Sekolah Dasar (SD), Anistia tidak pernah turun dari peringkat satu. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi ayahnya sehingga membuat beliau mendorong anaknya untuk bisa lolos di Sekolah Menengah Pertama (SMP) favorit di kotanya.
Di SMP tersebut, ia berhasil masuk kelas Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI), kelas yang berhasil membuatnya tidak melulu ada di peringkat satu. Kendati demikian, kemampuan Bahasa Inggrisnya justru berkembang pesat, padahal sebelumnya ia belum pernah mempelajarinya secara formal di jenjang SD.
Ia mulai aktif mengikuti lomba IPA, khususnya fisika, di tingkat kota hingga nasional. Ia langganan menjadi juara pertama lomba fisika di tingkat kota dan menjuarai beberapa perlombaan di tingkat provinsi. Pada tahun 2010, ia menjadi perwakilan Kota Mojokerto untuk mengikuti Olimpiade Siswa Nasional (OSN) di Medan.
Setahun berikutnya, ia kembali menjadi perwakilan kota dan berhasil menyabet medali perunggu bidang fisika dalam ajang 2nd National Science Camp di Surabaya.
Anistia kemudian mendapat tawaran beasiswa dari beberapa Sekolah Menengah Atas (SMA) bergengsi di Jawa Timur dan Jawa Tengah, sebelum akhirnya menjatuhkan pilihannya di Sampoerna Academy (SA) SMAN 10 Malang.
Disanalah, ia mulai tertarik dengan dunia kepenulisan ilmiah di samping tetap aktif di pelbagai perlombaan akademik. Selama SMA, ia mengambil dua kurikulum berbeda selama, yaitu KTSP dan IGCSE Cambridge untuk O-level dan A-level.
Namun sayang, mimpinya ke luar negeri untuk kuliah S1 harus pupus karena ia tidak berhasil lolos beasiswa Japanese Government (MEXT). Tawaran lanjut kuliah ke Amerika Serikat juga datang tetapi ia terpaksa menolaknya karena tawaran tersebut menggunakan skema student loan, bukan beasiswa.
STMKG adalah muara cerita cita dan cinta
Meskipun hanya tamatan SD, ibu Aly ingin anaknya bisa melanjutkan studi hingga ke jenjang perkuliahan. Beliau bahkan melarang anaknya untuk bekerja setelah lulus SMK, meskipun tawaran tersebut datang dari pelbagai perusahaan besar di Indonesia.
![]() |
| Anistia dan Aly saat STMKG |
Mempertimbangkan hal tersebut, Aly mulai memikirkan beberapa kemungkinan, hingga akhirnya ia kembali teringat dengan mimpi kecilnya untuk bekerja di BMKG.
Kejadian tsunami Aceh tahun 2004 membuat Aly kecil mendengar dan mengetahui BMKG untuk pertama kali. Sejak saat itulah, mimpinya untuk bisa bekerja di BMKG mulai tumbuh dalam alam bawah sadarnya.
Sepulangnya dari Jerman, ia memberanikan diri mengikuti seleksi STMKG, meskipun sebagai lulusan SMK ia tidak banyak belajar tentang fisika yang merupakan salah satu materi ujian masuk STMKG. Namun, ia berhasil lolos seleksi masuk STMKG dalam satu kali coba.
Ia sadar, sekolah ikatan dinas adalah salah satu cara yang paling mungkin ia dapatkan untuk melanjutkan perguruan tinggi tanpa mengeluarkan banyak biaya. Uang hasil tabungan dari berbagai kejuaraan dan olimpiade selama SMK hanya cukup untuk membeli laptop, uang administrasi masuk STMKG, dan hidup beberapa bulan.
Selanjutnya ia harus putar otak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, selain mengandalkan Tunjangan Ikatan Dinas (TID).
Berbeda dengan Aly, Anistia memilih STMKG karena sekolah ini merupakan satu-satunya sekolah kedinasan yang ada kaitannya dengan IPA, khususnya fisika. Selain itu, orang tuanya lebih mendukungnya untuk masuk sekolah ikatan dinas, meskipun ia juga sudah diterima di perguruan tinggi negeri.
Setelah pertimbangan panjang, akhirnya ia memilih meteorologi, sementara Aly tentu saja masuk instrumentasi. STMKG akhirnya menjadi muara bertemunya kedua insan ini.
Rezeki sudah tertakar, tidak pernah tertukar
Anistia memang bermimpi untuk kuliah ke luar negeri, tetapi tidak disangka terwujud secepat itu. Pasca lulus S1 tahun 2020, Anistia membaca tawaran beasiswa S2 ke Prancis.
Dengan modal nekat karena baru saja lulus dan mulai bekerja, Anistia menghadap Kepala Unit Pelaksana Teknis (KUPT), saat itu dijabat oleh Bapak Achadi Subarkah Raharjo. Betapa terkejutnya saat ia mengetahui jika izin tersebut ia dapatkan, justru beserta dukungan penuh dari KUPT.
Saat ia hampir menampatkan studi S2-nya di tahun 2022, ia mendapat tawaran untuk melanjutkan studi di jenjang S3 dari pembimbing tesisnya. Namun, alih-alih senang, tawaran tersebut justru membuatnya bimbang.
Ia menolak tawaran tersebut karena studi magisternya cukup memberikannya pelajaran jika menjalani studi seorang diri di luar negeri bukanlah hal yang mudah, sulitnya luar biasa. Bukan hanya kendala akademik, tetapi juga tantangan budaya dan Bahasa mengingat Bahasa Prancis merupakan bahasa pengantar di 99% mata kuliahnya.
Di momen itulah ia bertemu dengan Aly yang saat itu sedang cukup repot membagi waktu antara kuliah S2 di UI dan bekerja di tengah-tengah pandemi covid yang masih merajalela. Aly justru memberikan dukungan penuh dan menikahinya di tahun 2023.
Perjalanan keduanya dalam mencari beasiswa dan menentukan lokasi studi S3 akhirnya dimulai. Aly lebih dulu mendapatkan tawaran beasiswa MEXT tak lama setelah sidang tesisnya di tahun 2023. Namun ia tolak karena tidak ada jurusan yang cocok untuk Anistia.
Tak lama berselang, Anistia dan Aly mendapatkan beasiswa LPDP dan memilih University of Leeds sebagai lokasi studinya. Mudahnya jalan atau perizinan kuliah tak lepas dari agenda 500 doktor BMKG yang dicanangkan oleh Kepala BMKG saat ini, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D.
Agenda tersebut juga didukung oleh Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia, PPSDM BMKG, yang menyediakan bantuan administrasi dan finansial untuk IELTS, bimbingan seleksi beasiswa, dan bimbingan persiapan studi.
Memanfaatkan jejaring ilmuwan di bumi Leeds
Tidak hanya fokus dengan riset S3, Anistia juga beberapa kali mendapatkan research grant untuk mendukung penelitiannya, salah satunya ia berhasil mendapat CASE studentship dari MetOffice UK yang akan membantu mendanai dan memfasilitasi risetnya hingga akhir masa studi.
Di tahun pertama PhDnya, ia juga mendapat research grant dari British Council yang membiayainya untuk melakukan kunjungan dan kerja sama riset dengan China tahun 2024 lalu. Selain itu, ia juga aktif membangun jejaring dan komunikasi riset dengan Meteorological Service Singapore (MSS), MetMalaysia, dan PAGASA Filipina terkait kasus panas ekstrem di Asia Tenggara.
Ia juga mulai menjalin komunikasi dengan Professor Jason Lee yang merupakan presiden Global Heat Health Information Network (GHHIN) Southeast Asia Hub. Ia menjalankan 1 bulan visitasi riset di ketiga negara tersebut awal Juli hingga Agustus 2025.
Sementara itu, sepanjang tahun 2024 hingga pertengahan 2025, Aly lebih memilih memfokuskan diri pada pengembangan metode deteksi untuk peringatan dini tsunami vulkanik dari kacamata statistik, dengan studi kasus erupsi dan longsoran Anak Krakatau pada tahun 2018.
Kegiatan ini mencakup pengumpulan dan analisis data multi-sumber, pengujian algoritme deteksi, serta validasi hasil terhadap catatan kejadian aktual. Hanya dalam tahun pertama S3, Aly berhasil menyelesaikan analisis utama dan menyusun draf awal manuskrip.
Memasuki 2025, Aly masih dalam proses memfinalisasi naskah tersebut melalui serangkaian revisi substansial berdasarkan umpan balik internal, memperkuat interpretasi hasil, serta menegaskan kontribusi ilmiah penelitian ini dalam meningkatkan kapasitas mitigasi bencana tsunami akibat aktivitas vulkanik di masa depan.



0 Komentar