Selamat datang di laman resmi IKAMEGA — Ikatan Alumni AMG, BPLMG, dan STMKG, wadah kebersamaan alumni yang bersatu, profesional, dan berdampak bagi bangsa

Kabar Alumni: Langit Jadi Guru, Alam Jadi Buku: Mas Decky Menyelesaikan S3 dari Pelosok NTT

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah kepingan keindahan Indonesia yang unik. Selain gugusan pulau eksotis, pantai-pantai menawan, dan budaya tenun ikat yang memukau, wilayah ini juga menyimpan ragam karakteristik iklim yang menarik.

Di bagian selatan, Pulau Sabu dikenal dengan cuaca kering dan tanahnya yang kecokelatan, sementara di utara, Kabupaten Manggarai – khususnya Ruteng – justru dikenal sebagai daerah basah dan sejuk.

Tidak banyak aparatur negara yang berkesempatan merasakan langsung dinamika pengabdian di dua wilayah dengan kondisi geografis dan iklim yang sangat kontras. Namun, pengalaman inilah yang dijalani oleh Decky Irmawan, alumni AMG, yang telah menapaki perjalanan pengabdian dari Sabu hingga Ruteng—dan luar biasanya, berhasil meraih gelar Doktor (S3) di tengah tugasnya mengabdi di pelosok negeri.


Awal Pengabdian di Pulau Sabu

Pengabdian Decky dimulai pada awal November 1996 di Stasiun Meteorologi Tardamu, Sabu, sebuah pos pantau cuaca yang berada pada ketinggian hanya 20 meter di atas permukaan laut. Sabu kala itu adalah wilayah terpencil dengan akses terbatas.

Transportasi udara hanya tersedia seminggu sekali menggunakan pesawat Merpati dari Kupang, sementara moda laut seperti kapal ferry pun beroperasi dengan jadwal yang sama. Saat musim gelombang tinggi tiba, penundaan keberangkatan kapal menjadi hal yang biasa, menyebabkan distribusi logistik dan bahan bakar ikut tersendat.

Kondisi tersebut memengaruhi operasional stasiun. Listrik hanya menyala dari pukul 18.00 hingga 06.00, sehingga perangkat komunikasi seperti Single Side Band (SSB) untuk pengiriman informasi cuaca harus dijalankan menggunakan genset atau aki.

Meski serba terbatas, kehangatan masyarakat dan keindahan alam Pulau Sabu menjadi kenangan manis tersendiri. Decky menggambarkan pulau ini sebagai hamparan tanah coklat yang perlahan menghijau seiring datangnya musim hujan.


Kembali ke NTT: Menjadi Penjaga Langit Ruteng

Dua puluh lima tahun kemudian, pada Januari 2021, Decky kembali mengabdi di NTT, kali ini di Stasiun Meteorologi Frans Sales Lega, Ruteng, Kabupaten Manggarai. Berbeda jauh dengan Sabu, Ruteng berada di ketinggian 1.143 meter di atas permukaan laut dan dikenal sebagai salah satu kota dengan curah hujan tertinggi sekaligus terdingin di Indonesia.

Hujan hampir selalu menyambut pagi dan sore hari di Ruteng, sering kali disertai halimun yang menyelimuti perbukitan. Tak heran, vegetasi hijau membentang di mana-mana, dari ladang-ladang hingga sawah berbentuk jaring laba-laba (lodok/lingko) yang ikonik.

Ruteng pun memegang rekor suhu minimum 5,4°C (30 Juni 2003) dengan suhu harian rata-rata hanya sekitar 20°C. Penduduk lokal pun terbiasa mengenakan songke, sarung tenun khas Manggarai, untuk menghangatkan tubuh.

Meski fasilitas kini jauh lebih baik, tantangan tetap ada. Kondisi cuaca ekstrem kadang menyebabkan pembatalan penerbangan di Bandara Frans Sales Lega, memaksa perjalanan dialihkan ke kota lain seperti Labuan Bajo atau Bajawa. Namun, semua itu tak menyurutkan semangat Decky untuk terus menjalankan amanat dengan sepenuh hati.


Meraih Doktor di Tengah Pengabdian

Di sela-sela tugasnya sebagai pengamat dan penyaji informasi meteorologi di daerah perbukitan Ruteng, Mas Decky terus memupuk semangat belajar. Dengan konsistensi dan disiplin tinggi, ia menuntaskan studi doktoralnya di Program Doktor  Universitas Udayana, Bali.

Pada bulan Juni 2024, Mas Decky resmi menyandang gelar Doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang mengangkat tema lingkungan dan iklim, topik yang begitu relevan dengan tugasnya di lapangan.

Perjalanan menempuh pendidikan S3 dari pelosok bukanlah hal yang mudah—akses terbatas, keterbatasan fasilitas, hingga harus membagi waktu antara tugas negara dan studi. Namun, ia membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang jika disertai tekad kuat.

Pencapaian ini tak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tapi juga inspirasi bagi rekan sejawat dan generasi muda, bahwa belajar bisa dilakukan di mana saja, bahkan dari pelosok negeri sekalipun.


Ilmu yang Menjadi Terang

Pengalaman di Ruteng bukan hanya tentang cuaca dingin atau pemandangan indah, tetapi juga menjadi laboratorium nyata untuk ilmu meteorologi. Konsep seperti lapse rate dan hujan orografis tak lagi sekadar teori di buku kuliah.

Di Ruteng, Decky melihatnya langsung setiap hari — menyadari bahwa pengetahuan memang benar-benar menjadi cahaya yang membuka tabir ketidaktahuan.

“Fight to be the best and ever be fearless in the face of adversity,” ucapnya penuh keyakinan.

Kisah Decky Irmawan adalah kisah tentang dedikasi, ketangguhan, dan cinta pada negeri. Dari Sabu yang kering hingga Ruteng yang sejuk, dari penjaga langit hingga doktor ilmu lingkungan—pengabdian itu nyata. Dan kini, pengabdi dari ujung negeri itu telah berdiri di puncak akademik, mengukir jejak inspiratif yang akan terus dikenang.

Menjadi salah satu narasumber dalam kolaborasi untuk adaptasi dan mitigasi di sektor perkebunan dan pertanian


Berkontribusi memberikan edukasi dan literasi terkait cuaca. Para siswa berfoto di taman alat Stasiun Meteorologi Frans Sales Lega dengan latar belakang pegunungan yang indah.


Pegawai dan keluarga di lingkungan Stasiun Meteorologi Frans Sales Lega mengenakan pakaian adat Nusantara, berfoto bersama di halaman depan setelah menghadiri undangan upacara bendera dalam rangka Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2024.

0 Komentar